Kamis, 11 April 2013

Analisis Agroindustri dan Teknologi Pengolahan Kopi Arabika

Reza Nachsybandi - 101201156

Semua orang Indonesia tidak ada yang tak mengenal kopi, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, mulai dari kampung hingga kota, semua pernah merasakan minuman khas yang satu ini. Minuman kopi banyak digemari di seluruh kalangan masyarakat indonesia bahkan untuk beberapa jenis kopi asal  negeri ini menjadi bintang di kancah dunia.
Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit sentuhan teknis budidaya yang tepat, niscaya harapan kita menjadi kenyataan. Teknologi budidaya tersebut, meliputi persiapan lahan, pembibitan, penanaman, penyulaman, penyiraman. pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, panen, serta pengolahan hasil.
Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan peran penting bagi pertumbuhan perekonomian bahkan budaya masyarakat di Indonesia. Letak geografis dan iklim Indonesia yang sangat baik untuk pertumbuhan dan produksi kopi (Jenis Arabika & Robusta) menjadikan Indonesia salah satu negara pengekspor kopi dunia saat ini. Kata “kopi” sendiri berasal dari bahasa Arab “qahwah” yang berarti kekuatan. Kata “qahwah” ini kemudian di adopsi oleh Bangsa Turki menjadi “kahveh” dan kemudian menjadi “koffie” dalam bahasa Belanda. Seiring dengan kehadiran Kolonial Belanda di Indonesia, kata ”koffie” tersebut lambat laun terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”kopi”, akhirnya sampai saat ini orang Indonesia menyebutnya dengan “kopi”.
Sejarah kopi di Indonesia diduga berawal dari kisah para peziarah muslim yang kembali dari Timur Tengah membawa biji kopi ke India pada awal tahun 1600. Kemudian pada tahun 1696, seorang Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan bibit Kopi Yemen atau Kopi Arabica tersebut kepada Gubernur Belanda di Batavia, namun bibit Arabika pertama yang dikirimkan tersebut gagal tumbuh akibat banjir hebat melanda Batavia. Kemudian pengiriman kedua dilakukan kembali pada tahun 1699. Benih Kopi Arabika  dari pengiriman kedua tersebut ternyata tumbuh subur, Dan akhirnya pada tahun 1711, exsport pertama dikirim dari Java ke Eropa oleh Perdagangan Timur India yang dikenal sebagai VOC (Verininging Oogst-Indies Company). Dalam jangka waktu 10 tahun eksport kopi Indonesia meningkat Hingga 60 Ton per tahun, namun VOC berhasil memonopoli perdagangan kopi Indonesia sejak tahun 1725 sampai 1780.
Pada penulisan makalah ini, akan dibahas analisis agroindustri dan teknologi pengolahan salah satu jenis kopi yang menjadi andalan Indonesia, yaitu Kopi Arabika (Coffea arabica L.)
Taksonomi  dan Krakteristik Tanaman Kopi Arabica

Gambar1. Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.)

Taksonomi tanaman kopi arabika (Coffea arabica L.) adalah sebagai berikut :

Kerajaan          : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Gentianales
Famili              : Rubiaceae
Genus              : Coffea
Spesies            : Coffea arabica L.
Kopi Arabika (Coffea arabika L.) adalah species tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea (Najiati dan Danarti, 1997).  Tanaman ini tumbuhnya tegak, bercabang, daunnya bulat telur dengan ujung agak meruncing. daunnya tumbuh pada batang, cabang, dan ranting-rantingnya tersusun berdampingan. Secara alamiah tanaman kopi memiliki akar tunggang.  Tetapi akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang bibitnya berupa bibit semaian atau bibit sambungan (okulasi) yang batang bawahnya merupakan semaian. sedangkan untuk tanaman kopi yang bibitnya berupa hasil stek tidak mempunyai akar tunggang dan relatif mudah rebah (Najiati dan Danarti, 1997).
Kopi Arabika (Coffea arabica) ini merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi produk ekspor unggulan  di Indonesia. Harga kopi arabika lebih mahal dibandingkan dengan kopi robusta karena adanya cita rasa khas.  Untuk kualitas ekspor saat ini harga kopi arabika berkisar antara US$ 3-4 per kg sedangkan kopi robusta US$ 1.4-2 per Kg
Kopi arabika memiliki persyaratan tumbuh sbb:
  • Ketinggian 700 – 1500 m  dpl dengan kisaran optimum 900 – 1100 m dpl.
  • Iklim memiliki batas yang tegas antara musim kering  dan penghujan atau Iklim C – D menurut Schmidt dan Fergusson dengan curah hujan  1.000–2.000 mm/tahun dengan 3–5 bulan kering.
  • Dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan tekstur geluh pasiran dan kaya bahan organik, terutama pada daerah dekat permukaan tanah.
  • Produksi tanaman dapat stabil bila tersedia sarana pengairan dan atau pohon pelindung.
  • Sifat kimia tanah umumnya menghendaki pH agak masam yaitu 5,5 – 6,5.
Habitat
Apabila di lihat dari segi ekonomis tanaman kopi mempunyai pertumbuhan dan produksi yang sangat tergantung oleh keadaan iklim dan  tanah, antara lain:
A.    Tanah
Tanah merupakan salah satu komponen dalam bidang pertanian yang penting untuk dipelajari yang penting untuk dipelajari terutama sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah, antara lain :
1.      Sifat Fisik Tanah
Sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, air dan udara di dalam tanah.  Tanah untuk tanaman kopi berbeda-beda. Pada umumnya tanaman kopi menghendaki tanah yang lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus, dan permeabel, atau dengan kata lain tekstur tanah harus baik. Akar tanaman kopi membutuhkan oksigen yang tinggi, yang berarti tanah yang drainasenya kurang baik dan tanah liat berat adalah tidak cocok. Hal ini kecuali tanah itu sulit ditembus akar, peredaran air dan udara pun menjadi jelek.
2.      Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah yang dimaksud di sini ialah meliputi kesuburan tanah dan pH.  Diatas telah dikemukakan, bahwa tanaman menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan sifat kimia tanah, sebab satu sama lain saling berkaitan.  Tanah yang subur berarti banyak mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi.
B.     Iklim
 Tanaman kopi dapat tumbuh optimal pada 0 – 10 derajat LS dan 0 – 5 derajat LU.  Unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kopi adalah pada elevasi  0 – 1500 m dpl  dengan suhu antara 17 – 24 derajat celcius.  Dengan Curah Hujan  2000 – 3000 mm/th dan kurang lebih 3 bulan kering (Najiati dan Danarti, 1997).
Pengolahan  Kopi Arabika
Minuman Kopi Arabika memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan kopi lain yaitu:
  • Aromanya wangi sedap mirip percampuran bunga dan buah.
  • Hidup di daerah yang sejuk dan dingin.
  • Memiliki rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi jenis robusta.
  • Memiliki bodi atau rasa kental saat disesap di mulut.
  • Rasa kopi arabika lebih mild atau halus.
  • Kopi arabika juga terkenal pahit.
Disamping dampak negatif dari kandungan kimia kafein dari kopi, berdasarkan hasil penelitian dari beberapa peneliti di berbagai negara, ternyata kopi juga memiliki beberapa manfaat apabila dikonsumsi secara tepat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Mencegah batu ginjal.
2.        Melawan diabetes.
3.        Membantu pernafasan.
4.        Mencegah kanker payudara.
5.        Mengurangi resiko stroke.
Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam suatu usaha industri maka kerangka keberlanjutan menurut Spangenberg dan Bonniot (1998) berdasarkan Kerangka Wuppertal, semua teknologi yang digunakan serta kelembagaan yang terlibat dalam proses pembangunan diarahkan untuk memenuhi kepentingan manusia masa sekarang maupun masa mendatang. Jadi teknologi yang digunakan sesuai dengan daya dukung sumber daya alam, tidak ada degradasi lingkungan, secara ekonomi menguntungkan, dan secara sosial diterima oleh masyarakat.
Proses pengolahan kopi adalah tahapan yang mengubah buah kopi setelah panen menjadi biji kopi yang dapat diperdagangkan (biji kopi beras). Buah kopi atau kopi gelondong basah adalah buah kopi hasil panen dari kebun, kadar airnya masih berkisar antara 60-65% dan biji kopinya masih terlindung oleh kulit buah, daging buah, lapisan lendir, kulit tanduk, dan kulit ari. Biji kopi beras adalah biji kopi yang sudah dikeringkan dengan kadar air berkisar antara 12 – 13%. Biji kopi ini telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan sudah terlepas dari daging buah, kulit tanduk, dan kulit arinya.
Pengolahan Kopi Arabika dimulai dari penerimaan kopi gelondong dari lapangan/kebun sampai dengan pengepakan dan pengiriman. Secara umum pengolahan kopi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu pengolahan kering dan basah. Pengolahan kopi secara basah biasa disebut W.I.B (WestIndische Bereiding), sedangkan pengolahan kering disebut O.I.B (Oost Indische Bereiding) atau disebut pula dengan cara G.B (Gawone Bereiding). Selain pengolahan basah dan pengolahan kering, saat ini dikenal metode pengolahan semi basah (semi wet method). Proses pengolahan kopi kering, basah dan semi basah disajikan dalam gambar 2.
Gambar 2. Diagram proses pengolahan biji kopi
Sumber: Winston et al. (2005) ; Mulato et al. (2006)

Proses pengolahan basah terutama dilakukan untuk kopi Arabika. Biji kopi yang dihasilkan mempunyai kualitas lebih baik harga lebih tinggi seperti jenis Colombia dan Other Milds. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cortez dan Menezez (2000), kopi yang dihasilkan dari pengolahan basah memberikan cita rasa lebih nikmat dibanding kopi yang dihasilkan dari pengolahan kering. Kekurangan proses basah banyak menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan penanganan dan penggunaan energi untuk peralatan cukup besar.
Ciri khas kopi yang diolah proses basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika yang diolah dengan cara ini biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah tradisional umumnya. Proses giling basah juga dapat diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah secara basah mutunya sangat baik. Melalui modifikasi proses basah dapat mempersingkat waktu proses dibandingkan pengolahan basah umumnya.
Untuk pengolahan pasca penggudangan, biji kopi kering yang sudah di sortir akan melalui proses pemanggangan, proses ini mempengaruhi rasa minuman karena mnegubah fisik dari biji. Pemanggangan bisa mencapai suhu 2000 derajat celcius dan terjadi proses karamelisasi. Setelah itu dilakukan penggilingan. Penggilingan merupakan proses akhir dalam produksi minuman kopi dalam kemasan. Biji kopi yang telah digiling disebut “kopi bubuk”. Namun biasanya pada produk kopi jenis tertentu, sebelum dipasarkan bubuk kopi di dekafeinasi terlebih dahulu, yaitu penghilangan kafein dari pengolahan kopi. Tujuannya adalah untuk mengurangi kadar kafein dalam kopi agar rasanya tidak terlalu pahit. Setelah sampai ke konsumen, pengolahan kopi dilakukan dengan cara perebusan, yaitu mencampur bubuk kopi dengan air panas dan bahan lain sebagai pelengkap rasa minuman kopi.
Mutu kopi menggambarkan karakteristik yang melekat pada kopi dan umumnya ditentukan oleh konsumen sebagaimana produk pangan atau minuman lainnya. Pemahaman terhadap mutu kopi dapat berbeda mulai tingkat produsen hingga konsumen. Bagi produsen terutama petani, mutu kopi dipengaruhi oleh kombinasi tingkat produksi, harga, dan budaya. Pada tingkat eksportir maupun importir, mutu kopi dipengaruhi oleh ukuran biji, jumlah cacat, peraturan, ketersediaan produk, karakteristik, dan harga. Pada tingkat pengolahan kopi bubuk, kualitas kopi tergantung pada kadar air, stabilitas karakteristik, asal daerah, harga, komponen biokimia, dan kualitas cita rasa. Bahkan cita rasa dapat berbeda untuk setiap konsumen ataupun negara. Pada level konsumen, pilihan kopi tergantung pada harga, aroma, dan selera, pengaruh terhadap kesehatan serta aspek lingkungan maupun sosial.
Referensi:
http://www.anneahira.com/biji-kopi.htm
http://www.bironk.com/arabica-coffee/
http://abunali84.wordpress.com/2012/06/03/budidaya-tanaman-kopi-arabika/
Najiyati,S. dan Danarti. 1997. Budidaya Kopi dan Pengolahan Pasca Panen. Penebar Swadaya. Jakarta